Ngusaba Desa

Penjelasan Secara Umum

Ngusaba Desa atau piodalan di Pura Penataran Sasih secara rutin dilakukan setiap 1 tahun sekali dalam perhitungan hari di hindu yang bertepatan pada Purnamaning Kesanga. Pada saat upacara ini berlangsung Ida Bethara yang berstana di Pura Penataran Sasih akan nyejer selama 11 hari dipura. Ngusaba Desa biasanya di ikuti oleh beberapa desa di sekitar Desa Adat Jero Kuta Pejeng seperti Pejeng Kangin, Pejeng Kaja, Pejeng Kelod, dan Pejeng Kawan. Hal ini dikarenakan dahulunya desa-desa tersebut menjadi satu wilayah dengan Desa Adat Jero Kuta Pejeng.

Proses Upacara

Diawali dengan nuasen karya yaitu menandai sejak hari itu sudah dimulainya kegiatan persiapan karya Ngusaba Desa yang dimulai dengan matur piuning untuk memberitahu kepada beliau (yang berstana di Pura Penataran Sasih) bahwa masyarakat Pejeng siap untuk menyelenggarakan acara Ngusaba Desa yang jatuh pada Purnama Kesanga. Selanjutnya diikuti dengan pecaruan alit, seperti pecaruan ayam brumbun 1 untuk menandai bahwa sejak hari itu masyarakat siap untuk melakukan pujawali atau Ngusaba Desa. Kemudian dilakukannya tahap persiapan H-7 sebelum acara Ngusaba Desa dimulai. Pada H-1 dilaksanakannya munggah canang dan Ida bethara yang berada di lingkup Desa Jero Kuta Pejeng akan rauh (hadir) ke Pura Penataran Sasih seperti Pura Puseh, Desa, Dalem, dan Pura lainnya.

Munggah canang ini juga tahap akhir dari persiapan yang besoknya sudah dimulainya pujawai atau Ngusaba Desa, selain itu munggah canang ini juga sebagai bentuk laporan kebada beliau (yang berstana di Pura Penataran Sasih) bahwa seluruh rangkaian pujawali siap untuk dilaksanakan. Pada hari puncaknya seluruh Ida Bethara yang dahulunya satu wilayah dengan Jero Kuta Pejeng sebelum di mekarkan akan rauh ke Pura Penataran Sasih seperti Pejeng Kaja, Pejeng Kelod, Pejeng Kangin, Pejeng Kawan dan ada beberapa diluar yang wilayah pejeng ikut rauh (hadir) ke Pura Penataran Sasih. Kemudian dilanjutkan dengan puncakwali yang dipuput oleh Sulinggih dan ada rangkaian tari-tarian seperti tari rejang, rejang dewa, baris, tarian topeng, wayang lemah, dan lainnya. Pada hari ke 2 disebut dengan umanis karya, dimana masyarakat dapat menghaturkan banten, terdapat juga beberapa rangkaian tari-tarian dan ini akan terus berlanjut sampai hari ke 4.

Hari ke 4 ini disebut Pon Karya yang dimana rangkaian terakhir dari pujawai atau Ngusaba Desa, dimana diikuti dengan nampyog, tari ombak-ombakan, dan siat sampian. Kemudian pada hari ke 10 akan dilaksanakannya Melasti, pelaksanaan Melasti di Pura Penataran Sasih sedikit berbeda dimana ada 3 cara Melasti seperti melasti dilakukan ke pantai seperti melasti pada umumnya, kemudian cara ke 2 melasti dilakukan ke Tirta Empul sebagai symbol gunung, cara 3 bisa tidak kemana-mana yaitu ngubeng dimana melasti dilaksanakan di Pura Penataran Sasih dengan hanya memohonkan tirta di laut kemudian dibawakan ke pura dan dilakukan upacara di Pura Penataran Sasih. Melasti ini dilakukan secara bergilir tiap tahunnya seperti tahun pertama melasti di Pura, tahun berikutnya melasti dilakukan di Pantai, dan tahun berikutnya dilakukan di Tirta Empul. Pada hari ke 11 akan dilakukannya penyineban sebagai penutupan dari rangkaian acara pujawali atau Ngusaba Desa.

Galeri