Siat Sampian merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan saat Ngusaba Desa yaitu hari ke 4 setelah ngusaba desa resmi dilaksanakan. Siat Sampian berupa tarian sakral dimana dipentaskan oleh beberapa kelompok sutri yang umumnya adalah orang tua(wanita) yang sudah berkeluarga serta kaum muda yang disebut juru sirat yang biasanya berumur belasan tahun sampai maksimal 30 tahun. Siat Sampian ini merupakan tarian peperangan untuk melawan hawa nafsu yang di ungkapkan dengan ekspresi kegembiraan dan rasa senang untuk menyampaikan rasa sukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Sampian yang digunakan pada tarian ini merupakan rangkaian dari janur yang murupakan puncuk dari dangsil, dangsil ini adalah rangkaian gebogan atau tandingan banten yang umumnya terdiri dari jajanan local yang terbuat dari tepung kemudian dibentuklah ornament yang disebut dengan dangsil pada bagian ujung tersebut terdapat sampian. Sampian ini diibaratkan puncuk bunga dari suatu tumbuhan atau mahkota bunga, sampian inilah yang digunakan sebagai sarana untuk melakukan siat sampian.
Pelaksanaan
Prosesi Siat Sampian diawali dengan matur puining untuk meminta ijin kepada Ida Bethara yang bersemayam di Pura Penataran Sasih agar Siat Sampian ini dapat terlaksana dengan baik. Kemudian sebelum siat sampian ini terdapat beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan terlebih dahulu yaitu nampyog dan tarian ombak-ombakan. Setalah tarian ombak-ombakan dilaksanakan maka prosesi siat sampian dapat dilakukan oleh sutri dan juru sirat. Sutri sendiri merupakan ibu-ibu yang sudah lanjut usia yang biasanya ngayah atau bisanya juga merangkap sebagai serati banten, sedangkan juru sirat ini merupakan anak-anak muda mulai dari usia belasan sampai 30 tahun. Ketika siat sampian ini dilakukan sutri dan juru sirat akan mesiat atau saling menyerang satu sama lain menggunakan sampian yang di ambil dari janur dan rangkaian gebogan yang selama ini telah digunakan selama acara ngusaba desa.